Sunday, February 19, 2012

Bahagia? (040212)

Bahagia? (040212)

Aku merasa sendiri
Meskipun ada kamu, dia dan mereka
Aku tetap merasa sepi

Hanya sedikit suara yang kudengar
Hanya sedikit makna yang kupahami
Semua begitu tersembunyi

Penuh rahasia disekitarku
Berjuta tanda yang tidak mungkin aku mengerti
Tidak! Dunia kejam!

Bersama siapakah aku sekarang?
Tidakkah ada seorang di sini?
Aku lupa rasanya sakit...

Kosong, kosong dan kosong
Hampa, hampa dan hampa
Sepi, sepi dan sepi

Apakah ini yang namanya bahagia?

Tuesday, January 31, 2012

Hari perpisahan

Hari ini bagiku adalah bukan hari yang biasa. Aku tidak tahu ini hari yang menyenangkan atau hari yang menyedihkan? Hari yang baik atau yang buruk? Aku juga tidak tahu. Yang jelas hari ini bukanlah hari yang biasa dari biasanya.

Jam di kamarku menunjukkan pukul 9:15, tidak perlu perlu lagi aku berpikir untuk memilih pakaian apa yang akan aku kenakan untuk pergi ke kampus hari ini. Karena semuanya sudah terpikirkan sejak dari malam harinya. Celana jeans biru, dekker di kaki kiri serta sabuk dan jam tangan yang biasa kugunakan ke manapun aku pergi (aku tidak mau menyebut barang-barang itu sebagai kesayangan, cukup yang biasa digunakan saja), selanjutnya kaos polos tanpa merk yang berwarna coklat k

opi yang baru beberapa minggu yang lau kubeli (harganya dua puluh empat ribu rupiah per buah – tidak penting).
Aku memiliki janji dengan dosenku (mantan dosen?) jam 10 pagi, tapi aku baru berangkat dari rumah jam setengah sepuluh. Akankah cukup waktu 30 menit dari jakarta ke karawaci? Sudah bisa kutebak, tidak bisa. Apalagi aku harus memompa ban mobil dulu, memang tidak membutuhkan waktu yang banyak, tapi rasanya waktu sesedikit itu sangat berharga bagi orang yang terlambat sepertiku.

Tepat sesuai yang tergambar dalam pikiranku bahwa kemacetan akan terjadi di jalan panjang, tepatnya pada saat menuruni jembatan. Kemacetan terjadi karena jalur yang menyempit (termakan oleh jalur bus transjakarta) ditambah adanya lampu merah. Tidak lagi terpikir olehku (tepatnya adikku, karena dia yang menyetir) untuk mengambil jalur milik bus transjakarta
lagi, karena kami berdua sudah pernah ditilang dan mengeluarkan biaya besar karena memilih slip biru (sial!). Pada saat melewati lampu merah, aku lihat di ujung jalan jalur bus transjakarta ada dua mobil yang di stop polisi. Tanpa terkendali aku berkata dalam hati, "aku juga pernah di posisi itu."

Sedikit kemacetan di depan RCTI (seperti biasa), mobilku segera meluncur di jalan tol jakarta-merak. Aku tidak tahu berapa kecepatan mobilku, tetapi beberapa kali aku minta sang sopir (adikku) untuk mengurangi kecepatan. Tidak dikurangi juga memang kecepatannya, tapi aku hanya merasa lebih nyaman bila aku memintanya untuk mengurangi kecepatan laju mobilnya.

Sekitar jam setengah sebelas aku sudah duduk di tempat biasa aku menunggu datangnya sang pengantar (disebut juga sang sopir) dari tempat parkir. Tahun lalu, hampir setiap hari ketika aku baru sampai
kampus selalu menunggu di tempat itu. Aku menyebutnya "di depan gedung A" (walaupun sepertinya sekarang lebih populer disebut "times", nama sebuah toko buku yang ada di gedung A). Tempat yang sama tapi pemandangan yang berubah. Memang di depanku tetap terlihat taman kecil sebagai hiasan gedung, dua pilar gedung A, mobil sedan, dan gedung B. Namun kali ini ada yang berbeda, yang pertama kali menarik perhatianku adalah mobil sedan yang hampir selalu terparkir di depan pintu masuk gedung A itu. Warnanya berubah! Menurut penglihatanku sekarang warnanya abu-abu, menurut ingatanku dulu warnanya hitam mengkilat. "Mungkin karena hujan, jadi berdebu?" tanyaku dalam hati.

Selain mobil sedan itu, pemandangan yang lain adalah gedung B. Bukan gedung B yang bertransformasi, ta
pi gedung B yang bermetastasi haha... Seperti tumor yang menyebar, begitulah gedung B menyebar (memperluas) dirinya. Tidak lagi kulihat rumput-rumput hijau di sekitar gedung B. Yang kulihat adalah rangka bangunan (sepertinya) tingkat lima yang masih terus akan memperindah diri.

Aku tiba di lantai tiga kira-kira jam 10:45 aku sudah berdiri depan kantor jurusan. Sebelumnya aku disambut oleh temanku yang sama-sama mau bertemu dengan ibu dosen (mantan dosen?), dan ternyata dia sudah sempat bertemu lebih dulu (wajarlah aku telat sekitar 45 menit dari jadwal dan dia sudah sampai di sana 30 menit sebelum aku dating). Kantor jurusan masih sama seperti beberapa bulan lalu, tapi ada yang berbeda. Jadi ya mungkin mirip-mirip serupa tapi tak sama hehe…

Sekarang tidak bisa seperti dulu lagi, mau bertemu dosen atau orang yang ada di dalam kantor harus melalu telepon. (hal ini sudah aku alami ketika aku memasuki kantor jurusan psikologi tiga semester yang lalu). Pintu kantor tertutup rapat. Dulu juga begitu, tapi kadang terbuka, aku tidak tahu bagaimana sekarang. Dan di depan pintu kaca transparan itu masih tetap tertempel kertas pengumuman yang dilaminating. Aku tidak begitu memperhatikan pengumuman itu, karena sepertinya tulisan itu masih sama seperti dulu, yang intinya adalah mahasiswa dilarang masuk. Mungkin yang membedakannya sekarang adalah
kertasnya sekarang berwarna kuning dengan tinta hitam, terakhir aku melihatnya kertas putih dengan tinta hitam.

Sekitar lima atau sepuluh menit (aku lupa) menunggu di luar kantor, akhirnya aku masuk. Lagi-lagi tidak seperti biasanya ibu dosen (mantan dosen?) menjulurkan tangannya terlebih dahulu untuk bersalaman, dan tanpa pikir panjang aku langsung menggenggam tangan kanan bu dosen dengan tangan kananku (atau sebaliknya?). Pertanyaan pertama yang kudengar adalah, "gimana kegiatan kamu sekarang?main bursa?" Aku bingung lalu bertanya, "bursa, bursa saham bu?" Ibu dosen menjawab, "iya" disambut dengan tawa darinya, dariku dan temanku. Aku sempat bingung mengapa
aku ditanya seperti itu, dan aku menyimpulkan itu hanya gurauan belaka. Tapi pada kenyataannya itu adalah sesuatu yang serius, karena aku mendengar lagi hal yang sama untuk kedua kalinya, "kamu main saham aja lah hendry". Ya, aku tahu sekarang bahwa ini adalah hal yang serius. Intinya adalah dengan bermain saham seperti itu aku tidak perlu banyak bergerak untuk mencari uang.

Kira-kira 15 menit kami bertiga berbicara, cukup banyak yang dibicarakan. Meskipun harus kuakui ada beberapa momen di mana kami bertiga diam tidak ada kata, tapi aku tetap harus jujur mengatakan kalau percakapan itu menyenangkan. "Kalo ga kamu nulis buku, terus diterbitin di gramed." Itu kata ibu dosen (mantan dosen?) Ya, ibu dosen
(mantan dosen?) memang tau aku suka menulis. Entah darimana dia tahu, sepertinya aku pernah mengungkapkannya hanya saja aku yang lupa. Ingin aku menjawab, "ga tau bu mau nulis apa." "Nulis apa?" Tapi aku putuskan untuk menyimpan suara saja. Harus kuberitahu satu hal, mengapa? karena aku ingin memberitahunya hehe. Di dalam percakapan itu aku tidak banyak berbicara, lebih banyak mendengar dan berbicara ketika ditanya. Aku tidak sadar kalau aku bersikap seperti itu, pada saat perjalanan pulanglah baru aku menyadarinya.

Bagiku di akhir pertemuan adalah yang paling berkesan....

Setelah selesai berbincang-bincang, lalu saya berkata begini, "bu, saya boleh foto bareng sama ibu?buat kenang-kenangan" ya, seperti yang sudah aku perkirakan, ibu dosen (mantan dosen?) pasti mau. Tiga kali sesi pemotretan sukses dilakukan haha. Yang pertama foto bertiga, yang kedua aku foto berdua dengan ibu dosen (mantan dosen?), yang ketiga temanku foto dengan ibu dosen (mantan dosen?). Pengambilan foto tepat di depan pintu kantor jurusan. Pada bagian inilah yang kumaksud paling berkesan, yaitu ketika ibu dosen (mantan dosen?) Berkata, "kalian baik-baik yah" "kalau ada apa-apa kontek-kontek aja." dengan nada bicara yang lembut dan ramah, aku terima ucapan itu dengan hati yang damai dan tenteram. Bukan maksud hiperbola, memang begitu adanya. Aku tahu ibu dosen (mantan dosen?) adalah orang yang baik, bahkan sangat baik. Dia adalah salah satu dari dua dosen di jurusan yang sangat aku kagumi, hormati dan banggakan. Bapak (mantan) dekan dan ibu dosen (mantan dosen?) sendiri. Rasanya tidak berlebihan jika aku bermimpi bisa memiliki sikap seperti mereka.

Dan lagi-lagi pada saat perjalanan pulang jugalah aku baru ingat akan sesuatu hal. Sesuatu hal penting yang ingin aku ungkapkan. Kalau aku tidak salah ingat, aku menyiapkan hal ini ketika aku menerima kado dari ibu dosen (mantan dosen?) sebagai ucapan selamat atas kelulusanku, tepatnya tanggal 2 Desember 2011 satu hari sebelum aku diwisuda. Mungkin ini adalah hal biasa bagi sebagian orang, tapi ini merupakan sesuatu yang berharga, karena aku ingin melakukannya dengan tulus. Bisa ditebak apa?ya, ucapan terima kasih dan permintaan maaf. Terima kasih atas ilmu yang diberikan dan maaf atas kesalahan-kesalahan yang sudah aku buat. Selain itu tanpa aku harus berpikir lagi, kalimat ucapan itu langsung terangkai secara otomatis di dalam kepalaku, "bu, terima kasih ya udah ngajarin saya. Saya juga minta maap bu kalau suka buat ibu marah." Ya, itulah kalimat yang dengan sendirinya muncul di kepalaku.

Pada kenyataannya aku tidak pernah mengucapkan kalimat itu kepada ibu dosen (mantan dosen?) ketika aku bertemu dengannya. Karena aku lupa!!! Setidaknya aku mau mengucapkan di sini saja. Mungkin tidak terbaca hari ini, besok atau tahun ini, 10 tahun yang ada dating siapa tahu tidak sengaja terbaca? Semoga :)

"bu, terima kasih ya udah ngajarin saya. Saya juga minta maap bu kalau suka buat ibu marah."

Monday, January 30, 2012

Masa yang berhenti (291211)

Masa yang berhenti (291211)

Entah berapa lama aku berada di sini
Terjebak di dalam suatu masa
Tadinya kukira ini masa lalu, ternyata aku salah...
Masa ini kusebut masa yang berhenti

Berawal dari candu
Lalu aku overdosis!
Dan akhirnya aku 'mati'

Dunia menjadi diam, hampa, tawar dan sepi
Masa depan tak lagi bisa ku kecap
Masa lalu tak bisa lagi ku dengar

Aku kira sekarang aku berada di neraka
Jauh dari yang kutahu, yang katanya ada ratap dan kertak gigi serta api yang menyala-nyala
Di sini, tidak ada apa-apa

Tidak ada penyiksaan...
Tapi jiwaku terluka dan tak ada tanda akan sembuh
Tidak ada api yang membakar... Tapi hatiku selalu perih dan sakit seperti terbakar

Hey setan! Kumohon lepaskan aku...
Tidakkah kalian tahu aku sangat menderita di sini?
Aku memang sayang kalian semua, tapi aku tahu kalian semu

Kekasih masa depan, tolong selamatkan aku dari cengkeraman mereka
Peluklah aku sayang, jangan biarkan aku dirayu ilusi lagi

Friday, November 18, 2011

Gara-gara langit siang tadi

Hari ini adalah briefing pertama untuk pelaksanaan wisudaku tanggal 3 Desember nanti. Tidak aku sangka ternyata sangat ramai di ruangan briefing tadi, dan ternyata total kira-kira sekitar 400 orang lebih.

Setelah selesai briefing aku harus membeli satu buah tiket undangan tambahan supaya adikku bisa ikut masuk ke ruangan wisuda (karena setiap wisudawan hanya mendapat jatah dua undangan). Karena suasana yang ramai akhirnya aku tidak membeli tiket itu sendiri, tapi ibuku yang membelinya. Lalu aku bersama temanku menunggu di kantin kampus. Pengalaman yang ada di sinilah yang membuatku terdesak untuk menumpahkan tulisan ini.

Aku berjalan dari gedung briefing (yang disebut gedung D) selangkah demi selangkah menuju kantin (yang disebut food junction). Aku memilih kursi yang hampir paling dekat saja dari tempat masuk, tempat dudukku tepat menghadap lapangan basket.

Bukan lapangan basket yang mencuri perhatianku, tapi Perhatianku pertama kali justru tertuju pada dua orang (yang mungkin sepasang kekasih). Yang cowok duduk membelakangiku, dan yang cewek hampir berhadapan denganku (karena posisi meja yang agak serong, jadi tidak tepat berhadapan). Aku melihat si cewek itu sedang menulis sesuatu (mungkin mengerjakan tugas kampus).

Apa yang dilakukan kedua orang itu, terutama cewek itu. Membuat pikiranku bertanya-tanya kepada diri sendiri, "pernah ga lu kayak gitu?" Aku tahu pertanyaan ini bukan mengarah kepada tentang pacaran, tapi lebih kepada, "pernah ga lu nongkrong di kampus kayak gitu?" Belum sempat aku menjawab, muncul lagi pertanyaan lain, "nyesel ga lu ga pernah ngerasain gitu?" Aku akhirnya memilih untuk tidak menjawab kedua pertanyaan itu. Secara tak terkontrol pikiranku memberikan pernyataan, "seandai dulu suka nongkrong." "Ah sayang, masa-masa kuliah udah lewat."

Sempat timbul pernyataan lain, "ah sayang gw ga bisa bawa mobil sendiri sih" "ah sayang sekarang kakinya begini sih" kemudian muncul lagi pernyataan lain, "kok gw jadi galau?" Entah kenapa di dalam diriku muncul hal-hal seperti itu, dan sejujurnya tadi aku ingin sekali rasanya untuk mengulang waktu kembali ke masa di mana aku masih kuliah. Rasanya aku ingin sekali membuat masa kuliahku lebih 'menyenangkan'

Kuliah-pulang, kuliah-pulang (kupu-kupu) itulah rutinitasku pada saat kuliah. Di satu sisi aku menyesali keadaan yang aku alami, dalam arti, "mengapa aku harus menjadi 'kupu-kupu'?" Tapi aku juga tidak mau menganggap apa yang aku alami adalah sebuah kegagalan, dan aku cenderung mengatakan, "tidak ada yang sia-sia dengan apa yang terjadi dalam hidupku"

Aku bingung kenapa tiba-tiba aku jadi terpikir hal-hal seperti itu. Mungkin suasana 'perpisahan' yang semakin dekat turut melakukan intervensi terhadap diriku. Selain itu entah kenapa suasana langit siang tadi membuatku merasa nyaman (meskipun akhirnya menghasilkan pemikiran yang kurang nyaman), tapi aku merasakan sesuatu yang nyaman dan keadaan langit itu pun membuatku bertanya lagi, "bisa ga ngerasain kayak gini lagi?"

Hahahaha... Hari penuh kegalauan, terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari diriku sendiri. Dengan kejadian siang tadi, membuatku menjadi semakin percaya bahwa suasana tempat yang berbeda sangat mempengaruhi pemikiranku dan perasaanku. Dan hal ini juga memperanakkan sebuah pertanyaan lagi, "kapan aku bisa pergi sendirian ke tempat baru dan mulai menulis?" :)

Oh ya, aku mau mencoba untuk menggambarkan bagaimana keadaan langit siang tadi. Langit siang tadi di kampus pada saat selesai briefing sangat bersahabat. Makhluk itu tidak menyengat kulitku, dan tidak juga terlalu membekap matahari. Aku merasa langit itu menjadi lembut. Seperti melihat langit normal yang diselimuti kabut tipis, mungkin itu kalimat yang paling menggambarkan suasana tadi. Di akhir tulisan aku ingin mengucapkan terima kasih kepada langit siang tadi. "Hai langit, terima kasih." :)

Ditulis pada hari Kamis, 17 November 2011, selesai pada jam 23:04:48

Saturday, November 12, 2011

Afeksi acak (121111)

Afeksi acak (121111)

Betapa sayangnya aku kepadamu
Kurasa engkau pasti tahu

Yah biarlah begitu...
Kita sama-sama tahu tanpa ada kata setuju
Itulah yang terbaik bagi kita, menurutku...

Ketika aku pergi, masih bisakah aku melihat tulisannmu?
Ketika aku pergi, masih bisakah aku mendengar suaramu?
Ketika aku pergi, masih terasakah hangatnya bersamamu?

Manis, apa kamu merasakan hal yang sama denganku?
Ku yakin pasti iya...
Haha jujurlah padaku, jangan kamu sembunyikan lagi rasa itu

Ya begitulah dunia, tidak ada yang abadi
Yang terlihat, menjadi kosong
Yang terdengar, menjadi sepi
Yang terasa, menjadi hampa

Sayang, mungkin kaliman-kalimat yang ada di sini tidak saling menyatu
Dan kamu pasti bingung apa maksud dari tulisan ini
Abaikan sajalah itu...

Satu hal saja yang harus kau ingat
Di tempat yang lebih baik dari dunia ini, doaku untukmu tak akan putus
Jangan menangis, bersabarlah karena kita akan bertemu lagi
Aku selalu menunggumu

Inilah afeksi acak yang pernah aku janjikan kepadamu
Apakah kamu menyukainya?

Saturday, October 29, 2011

Kesurupan!!!

Aku lupa kapan tepatnya, mungkin kejadian ini kira-kira berlangsung pada bulan lalu. Jadi, begini ceritanya...

Seorang temanku yang satu kampus dan juga satu jurusan bercerita tentang seorang dosen yang mengajar teologi. Dan menurut pengakuan dosen tersebut, semester ini adalah terakhir kalinya ia mengajar di kampus, ia akan mengambil S2 dengan jurusan yang sama (teologi).

Aku cukup penasaran dengan mata kuliah itu, sayang aku sudah tidak kuliah lagi :( karena rasa penasaran itu, jadilah aku bertanya-tanya kepada temanku itu mengenai pelajaran teologi itu. Ternyata apa yang dikatakan oleh temanku itu membuatku sangat terkejut.

Dosen teologi itu berkata seolah-olah dia bukan seorang kristen! Berikut ini adalah beberapa hal yang diucapkan oleh dosen tersebut berdasarkan cerita dari temanku:

1. Mujizat yang dibuat oleh Yesus adalah mitos. Mujizat yang dikatakan oleh dosen itu adalah tentang lima roti dan dua ikan. "Kamu harus bisa membedakan antara mitos dan kenyataan" begitu kata temanku menirukan perkataan dosen itu.

2. Yesus bukanlah Tuhan. Inilah yang paling fatal. Mana ada seseorang yang mengaku dirinya adalah kristen tetapi tidak mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Bila ia bisa mengatakan bahwa Yesus bukanlah Tuhan, sudah pasti dia bukan kristen. Yang aneh adalah kenapa seorang yang bukan kristen bisa mengajar teologi?

3. Banyak hal-hal yang tertulis di dalam alkitab tidak masuk akal. "Walaupun begitu (banyak yang tidak masuk akal) tetapi tetap saja alkitab berada di tempat tertinggi." Sekali lagi pernyataan ini menunjukkan bahwa dia bukan seorang kristen.

Tapi entah kenapa jujur aku sempat sedikit percaya terhadap perkataan dosen itu :( ah aku sudah meragukan Tuhan :'( setelah keraguan itu, pada malam harinya aku bermipi. Tidak banyak yang bisa aku ingat (sayang sekali aku tidak langsung menuliskan mimpi itu), kira-kira seperti ini mimpinya.

Aku berada di sebuah rumah, tepatnya berada di bagian gudang yang seperti di film-film barat (itu lho yang gudangnya ada di bagian atap, semoga mengerti). Aku merasa baru saja terbebas dari kesurupan (aku baru tahu kalau aku kesurupan setelah diberitahu oleh ayahku), lalu aku mengingat-ingat lagi perasaan-perasaan saat aku kesurupan. Sejauh ingatanku (di dalam mimpi) aku merasa bahuku sangat berat, mungkin seperti ditekan rasanya. Hanya itu yang kuingat. Kata ayahku yang merasukiku adalah seorang (setan) profesor. Perasaanku bercampur antara takut, bersyukur dan tidak percaya. Takut dengan setan itu, bersyukur karena aku bisa terbebas dan tidak percaya karena pada akhirnya akupun mengalami kesurupan.

Tidak lama setelah aku mengetahui siapa yang merasukiku itu, akupun langsung terbangun dengan perasaan yang sama seperti di dalam mimpi. Dan aku langsing teringat akan cerita temanku tentang dosen teologi itu. Entah kenapa aku sangat yakin mimpi itu sangat erat hubungannya dengan cerita temanku itu. Menurutku mimpiku itu adalah peneguhan dari Tuhan tentang diriNya.

Yang membuatku mengatakan mimpi ini adalah berupa peneguhan untukku adalah berdasarkan analisaku sendiri, seperti ini:

1. Aku yang kesurupan.

Aku analogikan kejadian ini dengan pemikiranku (di dunia nyata) yang 'kerasukan', dalam hal ini adalah mengenai keraguanku tentang keberan akan ajaran Gereja (aku sedikit terhasut oleh kata-kata dosen yang diceritakan temanku).

2. Setannya adalah seorang (se-setan) profesor.

Hal ini menambah lebih jelas lagi arti mimpiku itu. Setan yang merasukiku itu adalah seorang yang pandai (profesor). Aku analogikan setan di dalam mimpiku itu adalah ucapan-ucapan yang keluar (yang tidak benar) dari mulut si dosen teologi itu. Dan profesor aku analogikan sebagai dosen itu sendiri, mengapa?karena profesor dan dosen sama-sama identik dengan orang yang pintar.

Ya kira-kira begitulah analisaku yang cupu itu. Aku sangat bersyukur ketika pada pagi hari aku terbangun, keraguanku langsung hilang tanpa jejak. Aku meyakini itu adalah salah satu bimbingan Allah untukku melalui mimpi. Aku sungguh sangat menyayangkan kenapa bisa sampai ada dosen teologi yang mengatakan seperti itu :(

Thursday, October 06, 2011

Aku tidak tahu...

Sudah tiga tahun kira-kira aku belum bisa menggunakan kaki kiriku untuk menopang badanku. Tidak terasa sudah selama itu kaki kiriku beristirahat untuk sementara. Berbagai perasaan sudah banyak menyapaku, dari keinginan menggebu-gebu agar bisa segera berjalan lagi hingga merasa biasa saja.

Ya, sekarang ini yang aku rasakan adalah biasa saja. Bisa dikatakan seperti ini, "bisa jalan bersyukur, masih belum bisa jalan ya sudahlah". Tiba-tiba saja aku jadi menjadi bingung dengan perasaan itu. Aku tidak tahu apakah ini yang disebut berserah?atau malah putus asa?bila keinginanku dulu yang menggebu-gebu untuk segera bisa berjalan dan cenderung "memerintah" Tuhan berganti dengan perasaan biasa ini, apakah aku salah jalan?

Sampai saat ini aku masih merasa benar, walaupun tidak yakin akan keyakinanku itu. Sejujurnya aku merasa tidak pantas mempunyai keingian untuk sembuh dan bisa berjalan lagi, dan bahkan aku sempat berpikir untuk lebih menderita lagi (tapi tidak berani meminta penderitaan itu kepada Tuhan). Ah mungkin itu pemikiran yang gila.

Sejujurnya setiap kali berdoa aku masih menyisipkan permohonan agar aku sembuh, meskipun dari hati kecilku sendiri mengatakan bahwa permohonan itu adalah tidak perlu. Aku tidak tahu mengapa hati kecilku berkata begitu. Apakah itu bisikan iblis? Aku takut ada yang salah dengan pemikiranku ini (semoga saja tidak)

Satu hal yang membuatku bersyukur adalah dengan keadaan seperti ini (kaki kiri yang masih belum bisa digunakan), aku bisa lebih dekat dengan Tuhan. Aku jadi menyesal (sangat menyesal) dengan apa yang aku lakukan dulu sewaktu sehat, dimana rasanya aku hanya bermain-main dalam melakukan sesuatu untuk Tuhan. Dapat dikatakan, "yang penting hadir" tanpa mau mengerti apa arti dari menyenangkan hati Tuhan. Ah terkutuklah aku!

Dengan keadaan sekarang ini (yang aku rasa semakin dekat dengan Tuhan) aku sepertinya malah menjadi lebih banyak ragu, ragu akan kebenaran dari apa yang aku rasa dan apa yang aku pikir. Salah satu contohnya ada yang di atas: aku ragu apakah aku benar bila memiliki rasa yang biasa saja, dengan menekan keinginan untuk sembuh?

Kalau boleh aku memberikan ilustrasi, aku merasa di dalam diriku sendiri seringkali terjadi pertempuran antara si baik dan si jahat. Dalam hal ini aku mengumpamakan keinginan sembuh adalah si jahat, dan si baik adalah perasaan yang biasa saja (meskipun ada lagi hal baik dan jahat yang lain bertempur di dalam diriku). Kira-kira seperti itulah yang kurasakan. Ah, aku masih labil!

Semua yang kurasa saat ini apakah karena aku 'teracuni' dengan buku-buku yang aku baca?aku kira tidak, rasa in sepertinya datang dari Tuhan. Semoga aku tidak berdelusi (lagi-lagi aku ragu! Sesungguhnya aku takut bila salah jalan).

Wednesday, August 24, 2011

Doa atau Meditasi?

Aku pernah memberi label kepada diri sendiri sebagai orang yang rakus. Dalam hal ini adalah rakus dalam hal rohani. Entah kenapa aku pernah merasa ingin melakukan seluruh kegiatan rohani yang saya tahu, tapi hal ini malah membuatku menjadi dilema. Salah satunya mengenai doa dan meditasi, yang mana yang harus aku lebih utamakan?

Akhirnya aku menyimpulkan sendiri, yang lebih baik adalah berdoa. Alasan yang paling masuk akal adalah karena Yesus sendiri di alkitab tidak pernah diceritakan sedang bermeditasi, yang ada adalah sedang berdoa. Disamping itu alasanku memilih doa adalah karena aku tidak bisa melakukan keduanya, aku harus menentukan pilihan. Doa atau meditasi.

Untuk sementara, pemikiran itu aku akui sebagai yang paling baik. Tapi tidak setelah aku membaca sebuah kalimat dari Padre Pio: "Bila tiada waktu tersisa untuk berdoa atau bermeditasi, pilihlah yang terakhir karena akan lebih bermanfaat."

Dari kalimat itu, aku mengetahui bahwa yang 'lebih baik' adalah meditasi, namun bukan berarti doa tidak penting. Karena sebenarnya antara doa dan meditasi seharusnya berjalan bersamaan. Mengapa aku katakan seharusnya bersamaan?karena tujuan aku berdoa adalah untuk berkomunikasi dengan Allah, dimana dalam komunikasi aku akan berbicara dan aku juga harus mendengarkan. Untuk itu aku berbicara (bersyukur dan memohon) kepada Allah melalui doa, dan aku mendengarkan Allah yang berbicara melalui meditasi. Inilah alasan mengapa meditasi itu perlu, kalau aku tidak mendengarkan Allah yang berbicara, bukankah aku egois?

Lalu, mengapa meditasi 'lebih baik'?alasannya adalah karena aku adalah manusia. Apa hubungannya?aku tahu manusia itu hanya debu di hadapan Allah. Oleh karena itu, untuk apa debu banyak meminta?bukankah aku bisa menjadi manusia saja sudah sangat baik?hal ini bukan berarti aku mengatakan tidak perlu meminta kepada Allah, namun setidaknya kita harus 'tahu diri'. Aku sadar ternyata selama ini lebih banyak meminta kepada Allah, daripada mendengarkan.

Kembali ke pernyataan Padre Pio tadi, mengapa dikatakan 'lebih baik' memilih meditasi?menurut pemikiranku, 'lebih baik' duduk diam mendengarkan Allah berbicara daripada aku yang mengoceh :) karena Allah yang lebih tahu apa yang terbaik bagiku daripada keinginan-keinginan yang aku panjatkan melalui doa,

Aku harus selalu berkomunikasi dengan Allah, dimana komunikasi adalah aku yang berbicara dan aku juga harus mendengarkan. Berbicara kepada Allah dengan cara berdoa dan mendengarkan Allah dengan cara bermeditasi. Jadi, jawaban dari pertanyaan yang ada di judul tulisan ini adalah doa dan meditasi :)

Sunday, July 31, 2011

Tradisi Itu Sudah Mati?

Akhirnya aku mulai lagi menulis di blog ini, setelah beberapa bulan tidak menulis karena diganggu oleh skripshit. Ya, skripshit (skripsi) sangat mengganggu menurutku. Aku tidak tahu kenapajadi 'benci' dengan skripshit. Sekarang si pengganggu itu sudah aku kalahkan dan semoga seiring berjalannya waktu, 'kebencian'ku akan skripshit memudar hahaha...


Aku mau mengeluh tentang sebuah tradisi yang pernah (atau masih?) aku alami. Tradisi ini adalah sebuah ritual yang biasa saja, tidak ada yang spesial di sini. Hanya saja cukup berarti bagiku :)

Berawal dari ajakan seorang sahabat, tradisi ini mulai berjalan. Pada awal-awal kegiatan aku sempat berpikir kalau tradisi ini akan berlangsung sampai selamanya. Terbentuknya tradisi ini adalah sebuah impianku sejak dari dulu. Tentunya kamu bisa membayangkan bagaimana rasanya jika sebuah impian terwujud?ya, bahagia :)

Sepengetahuanku, pengikut tradisi ini berjumlah tiga orang (termasuk aku). Peraturannya hanya satu, yaitu: setiap jam 10 malam, kami melakukan ritual secara bersama-sama. Sesuai dengan yang aku bayangkan, ritual ini dapat membuatku merasa menjadi satu, dalam arti mendekatkanku dengan para anggota lain, meskipun kami di tempat yang berjauhan.

Tradisi ini berlangsung kira-kira selama satu tahun (mungkin juga kurang). Dan sekarang tradisi ini tidak dilakukan seketat dulu, bisa dikatakan tradisi ini sudah sekarat (mungkin lebih cocok mati?). Kendornya semangat untuk berdisiplin mengikuti peraturan tradisi aku rasakan pada saat aku mengerjakan skripshit (mungkin ini alasan mengapa aku 'benci' skripshit?). Aku tidak lagi selalu tepat waktu untuk melakukan ritual, dan begitu juga dengan anggota yang lain.

Sepertinya tradisi ini sudah menjadi tua, kemudian mati seiring berjalannya waktu. Semoga aku salah...

Tradisi dan ritual sengaja tidak aku tulis di sini, biarlah aku dan anggota yang tau :p

Wednesday, March 02, 2011

Untitled

Kira-kira satu jam yang lalu aku mendengar kabar yang sangat tidak disangka-sangka. Salah seorang teman seperjuangan telah pergi meninggalkan dunia ini. Ya, dia telah meninggal :’( memang aku tidak terlalu dekat dengannya, karena perkenalanku dengannya masih sangat baru. Terakhir kali aku berbincang-bincang dengannya pada tanggal 3 januari 2011. Kebetulan sms dari dia masih aku simpan, dan di sms itu dia mengatakan, “kabar-kabar terus ya mas Hen, misal ganti nomor atau apa bilang-bilang juga…” yaah.. ternyata sekarang dia sudah berada di tempat yang lebih enak dari dunia ini, curang kamu Gerry!

Ya, namanya Gerry. Dia mungkin orang pertama yang menolak memanggilku dengan hanya sebutan nama. Alasannya adalah karena aku lebih tua darinya. Jadi dia memanggilku dengan kata ‘mas’ di depan namaku, hmmm… sedikit aneh memang, tapi aku menikmatinya :) entah aku harus sedih atau malah senang melihat Gerry meninggal. Sedih karena cita-cita Gerry pasti banyak yang belum kesampaian, senang karena Gerry sekarang sudah sehat dan bahagia di tempat yang baru. Itu pasti, iya kan Ger?

Mendengar kabar meninggalnya Gerry, sempat terbersit sedikit rasa takut. Jujur, harus aku akui bahwa aku masih sangat pengecut dalam menghadapi kematian. entah perasaan ini wajar atau tidak (aku rasa wajar). Menyadari ketakutanku itu, suatu kalimat keluar dari dalam diriku (mungkin ini yang namanya suara hati?) “Tapi kematian adalah sebuah takdir, sama seperti kelahiran, aku tidak memilih untuk dilahirkan, tapi Tuhan yang memilih aku.” “Begitu juga dengan kematian, aku tidak mau memilih kematian, tapi Tuhan yang memilih aku.” terkesan sok bijak, entahlah...

Sambil menulis ini pikiranku melayang, membayangkan sekaligus bertanya, “apa yang sedang dlakukan Gerry?” aku tidak tahu, tapi pastinya sudah bahagia, sudah sehat. Tidak ada lagi yang namanya operasi, kemoterapi dan lain-lain. Hahaha… beruntung kamu Gerry! Aku dan teman-teman di sini masih berjuang untuk menuju ke tempat kamu. Kamu tunggu di sana yah, jangan pergi-pergi lagi… cepat atau lambat aku akan datang ke sana, tunggu aku!

Bagiku hidup bukan berjuang untuk kehidupan, tapi berjuang untuk mencapai kematian yang sekaligus adalah kehidupan kekal :)