Saturday, November 12, 2011

Afeksi acak (121111)

Afeksi acak (121111)

Betapa sayangnya aku kepadamu
Kurasa engkau pasti tahu

Yah biarlah begitu...
Kita sama-sama tahu tanpa ada kata setuju
Itulah yang terbaik bagi kita, menurutku...

Ketika aku pergi, masih bisakah aku melihat tulisannmu?
Ketika aku pergi, masih bisakah aku mendengar suaramu?
Ketika aku pergi, masih terasakah hangatnya bersamamu?

Manis, apa kamu merasakan hal yang sama denganku?
Ku yakin pasti iya...
Haha jujurlah padaku, jangan kamu sembunyikan lagi rasa itu

Ya begitulah dunia, tidak ada yang abadi
Yang terlihat, menjadi kosong
Yang terdengar, menjadi sepi
Yang terasa, menjadi hampa

Sayang, mungkin kaliman-kalimat yang ada di sini tidak saling menyatu
Dan kamu pasti bingung apa maksud dari tulisan ini
Abaikan sajalah itu...

Satu hal saja yang harus kau ingat
Di tempat yang lebih baik dari dunia ini, doaku untukmu tak akan putus
Jangan menangis, bersabarlah karena kita akan bertemu lagi
Aku selalu menunggumu

Inilah afeksi acak yang pernah aku janjikan kepadamu
Apakah kamu menyukainya?

Saturday, October 29, 2011

Kesurupan!!!

Aku lupa kapan tepatnya, mungkin kejadian ini kira-kira berlangsung pada bulan lalu. Jadi, begini ceritanya...

Seorang temanku yang satu kampus dan juga satu jurusan bercerita tentang seorang dosen yang mengajar teologi. Dan menurut pengakuan dosen tersebut, semester ini adalah terakhir kalinya ia mengajar di kampus, ia akan mengambil S2 dengan jurusan yang sama (teologi).

Aku cukup penasaran dengan mata kuliah itu, sayang aku sudah tidak kuliah lagi :( karena rasa penasaran itu, jadilah aku bertanya-tanya kepada temanku itu mengenai pelajaran teologi itu. Ternyata apa yang dikatakan oleh temanku itu membuatku sangat terkejut.

Dosen teologi itu berkata seolah-olah dia bukan seorang kristen! Berikut ini adalah beberapa hal yang diucapkan oleh dosen tersebut berdasarkan cerita dari temanku:

1. Mujizat yang dibuat oleh Yesus adalah mitos. Mujizat yang dikatakan oleh dosen itu adalah tentang lima roti dan dua ikan. "Kamu harus bisa membedakan antara mitos dan kenyataan" begitu kata temanku menirukan perkataan dosen itu.

2. Yesus bukanlah Tuhan. Inilah yang paling fatal. Mana ada seseorang yang mengaku dirinya adalah kristen tetapi tidak mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Bila ia bisa mengatakan bahwa Yesus bukanlah Tuhan, sudah pasti dia bukan kristen. Yang aneh adalah kenapa seorang yang bukan kristen bisa mengajar teologi?

3. Banyak hal-hal yang tertulis di dalam alkitab tidak masuk akal. "Walaupun begitu (banyak yang tidak masuk akal) tetapi tetap saja alkitab berada di tempat tertinggi." Sekali lagi pernyataan ini menunjukkan bahwa dia bukan seorang kristen.

Tapi entah kenapa jujur aku sempat sedikit percaya terhadap perkataan dosen itu :( ah aku sudah meragukan Tuhan :'( setelah keraguan itu, pada malam harinya aku bermipi. Tidak banyak yang bisa aku ingat (sayang sekali aku tidak langsung menuliskan mimpi itu), kira-kira seperti ini mimpinya.

Aku berada di sebuah rumah, tepatnya berada di bagian gudang yang seperti di film-film barat (itu lho yang gudangnya ada di bagian atap, semoga mengerti). Aku merasa baru saja terbebas dari kesurupan (aku baru tahu kalau aku kesurupan setelah diberitahu oleh ayahku), lalu aku mengingat-ingat lagi perasaan-perasaan saat aku kesurupan. Sejauh ingatanku (di dalam mimpi) aku merasa bahuku sangat berat, mungkin seperti ditekan rasanya. Hanya itu yang kuingat. Kata ayahku yang merasukiku adalah seorang (setan) profesor. Perasaanku bercampur antara takut, bersyukur dan tidak percaya. Takut dengan setan itu, bersyukur karena aku bisa terbebas dan tidak percaya karena pada akhirnya akupun mengalami kesurupan.

Tidak lama setelah aku mengetahui siapa yang merasukiku itu, akupun langsung terbangun dengan perasaan yang sama seperti di dalam mimpi. Dan aku langsing teringat akan cerita temanku tentang dosen teologi itu. Entah kenapa aku sangat yakin mimpi itu sangat erat hubungannya dengan cerita temanku itu. Menurutku mimpiku itu adalah peneguhan dari Tuhan tentang diriNya.

Yang membuatku mengatakan mimpi ini adalah berupa peneguhan untukku adalah berdasarkan analisaku sendiri, seperti ini:

1. Aku yang kesurupan.

Aku analogikan kejadian ini dengan pemikiranku (di dunia nyata) yang 'kerasukan', dalam hal ini adalah mengenai keraguanku tentang keberan akan ajaran Gereja (aku sedikit terhasut oleh kata-kata dosen yang diceritakan temanku).

2. Setannya adalah seorang (se-setan) profesor.

Hal ini menambah lebih jelas lagi arti mimpiku itu. Setan yang merasukiku itu adalah seorang yang pandai (profesor). Aku analogikan setan di dalam mimpiku itu adalah ucapan-ucapan yang keluar (yang tidak benar) dari mulut si dosen teologi itu. Dan profesor aku analogikan sebagai dosen itu sendiri, mengapa?karena profesor dan dosen sama-sama identik dengan orang yang pintar.

Ya kira-kira begitulah analisaku yang cupu itu. Aku sangat bersyukur ketika pada pagi hari aku terbangun, keraguanku langsung hilang tanpa jejak. Aku meyakini itu adalah salah satu bimbingan Allah untukku melalui mimpi. Aku sungguh sangat menyayangkan kenapa bisa sampai ada dosen teologi yang mengatakan seperti itu :(

Thursday, October 06, 2011

Aku tidak tahu...

Sudah tiga tahun kira-kira aku belum bisa menggunakan kaki kiriku untuk menopang badanku. Tidak terasa sudah selama itu kaki kiriku beristirahat untuk sementara. Berbagai perasaan sudah banyak menyapaku, dari keinginan menggebu-gebu agar bisa segera berjalan lagi hingga merasa biasa saja.

Ya, sekarang ini yang aku rasakan adalah biasa saja. Bisa dikatakan seperti ini, "bisa jalan bersyukur, masih belum bisa jalan ya sudahlah". Tiba-tiba saja aku jadi menjadi bingung dengan perasaan itu. Aku tidak tahu apakah ini yang disebut berserah?atau malah putus asa?bila keinginanku dulu yang menggebu-gebu untuk segera bisa berjalan dan cenderung "memerintah" Tuhan berganti dengan perasaan biasa ini, apakah aku salah jalan?

Sampai saat ini aku masih merasa benar, walaupun tidak yakin akan keyakinanku itu. Sejujurnya aku merasa tidak pantas mempunyai keingian untuk sembuh dan bisa berjalan lagi, dan bahkan aku sempat berpikir untuk lebih menderita lagi (tapi tidak berani meminta penderitaan itu kepada Tuhan). Ah mungkin itu pemikiran yang gila.

Sejujurnya setiap kali berdoa aku masih menyisipkan permohonan agar aku sembuh, meskipun dari hati kecilku sendiri mengatakan bahwa permohonan itu adalah tidak perlu. Aku tidak tahu mengapa hati kecilku berkata begitu. Apakah itu bisikan iblis? Aku takut ada yang salah dengan pemikiranku ini (semoga saja tidak)

Satu hal yang membuatku bersyukur adalah dengan keadaan seperti ini (kaki kiri yang masih belum bisa digunakan), aku bisa lebih dekat dengan Tuhan. Aku jadi menyesal (sangat menyesal) dengan apa yang aku lakukan dulu sewaktu sehat, dimana rasanya aku hanya bermain-main dalam melakukan sesuatu untuk Tuhan. Dapat dikatakan, "yang penting hadir" tanpa mau mengerti apa arti dari menyenangkan hati Tuhan. Ah terkutuklah aku!

Dengan keadaan sekarang ini (yang aku rasa semakin dekat dengan Tuhan) aku sepertinya malah menjadi lebih banyak ragu, ragu akan kebenaran dari apa yang aku rasa dan apa yang aku pikir. Salah satu contohnya ada yang di atas: aku ragu apakah aku benar bila memiliki rasa yang biasa saja, dengan menekan keinginan untuk sembuh?

Kalau boleh aku memberikan ilustrasi, aku merasa di dalam diriku sendiri seringkali terjadi pertempuran antara si baik dan si jahat. Dalam hal ini aku mengumpamakan keinginan sembuh adalah si jahat, dan si baik adalah perasaan yang biasa saja (meskipun ada lagi hal baik dan jahat yang lain bertempur di dalam diriku). Kira-kira seperti itulah yang kurasakan. Ah, aku masih labil!

Semua yang kurasa saat ini apakah karena aku 'teracuni' dengan buku-buku yang aku baca?aku kira tidak, rasa in sepertinya datang dari Tuhan. Semoga aku tidak berdelusi (lagi-lagi aku ragu! Sesungguhnya aku takut bila salah jalan).

Wednesday, August 24, 2011

Doa atau Meditasi?

Aku pernah memberi label kepada diri sendiri sebagai orang yang rakus. Dalam hal ini adalah rakus dalam hal rohani. Entah kenapa aku pernah merasa ingin melakukan seluruh kegiatan rohani yang saya tahu, tapi hal ini malah membuatku menjadi dilema. Salah satunya mengenai doa dan meditasi, yang mana yang harus aku lebih utamakan?

Akhirnya aku menyimpulkan sendiri, yang lebih baik adalah berdoa. Alasan yang paling masuk akal adalah karena Yesus sendiri di alkitab tidak pernah diceritakan sedang bermeditasi, yang ada adalah sedang berdoa. Disamping itu alasanku memilih doa adalah karena aku tidak bisa melakukan keduanya, aku harus menentukan pilihan. Doa atau meditasi.

Untuk sementara, pemikiran itu aku akui sebagai yang paling baik. Tapi tidak setelah aku membaca sebuah kalimat dari Padre Pio: "Bila tiada waktu tersisa untuk berdoa atau bermeditasi, pilihlah yang terakhir karena akan lebih bermanfaat."

Dari kalimat itu, aku mengetahui bahwa yang 'lebih baik' adalah meditasi, namun bukan berarti doa tidak penting. Karena sebenarnya antara doa dan meditasi seharusnya berjalan bersamaan. Mengapa aku katakan seharusnya bersamaan?karena tujuan aku berdoa adalah untuk berkomunikasi dengan Allah, dimana dalam komunikasi aku akan berbicara dan aku juga harus mendengarkan. Untuk itu aku berbicara (bersyukur dan memohon) kepada Allah melalui doa, dan aku mendengarkan Allah yang berbicara melalui meditasi. Inilah alasan mengapa meditasi itu perlu, kalau aku tidak mendengarkan Allah yang berbicara, bukankah aku egois?

Lalu, mengapa meditasi 'lebih baik'?alasannya adalah karena aku adalah manusia. Apa hubungannya?aku tahu manusia itu hanya debu di hadapan Allah. Oleh karena itu, untuk apa debu banyak meminta?bukankah aku bisa menjadi manusia saja sudah sangat baik?hal ini bukan berarti aku mengatakan tidak perlu meminta kepada Allah, namun setidaknya kita harus 'tahu diri'. Aku sadar ternyata selama ini lebih banyak meminta kepada Allah, daripada mendengarkan.

Kembali ke pernyataan Padre Pio tadi, mengapa dikatakan 'lebih baik' memilih meditasi?menurut pemikiranku, 'lebih baik' duduk diam mendengarkan Allah berbicara daripada aku yang mengoceh :) karena Allah yang lebih tahu apa yang terbaik bagiku daripada keinginan-keinginan yang aku panjatkan melalui doa,

Aku harus selalu berkomunikasi dengan Allah, dimana komunikasi adalah aku yang berbicara dan aku juga harus mendengarkan. Berbicara kepada Allah dengan cara berdoa dan mendengarkan Allah dengan cara bermeditasi. Jadi, jawaban dari pertanyaan yang ada di judul tulisan ini adalah doa dan meditasi :)

Sunday, July 31, 2011

Tradisi Itu Sudah Mati?

Akhirnya aku mulai lagi menulis di blog ini, setelah beberapa bulan tidak menulis karena diganggu oleh skripshit. Ya, skripshit (skripsi) sangat mengganggu menurutku. Aku tidak tahu kenapajadi 'benci' dengan skripshit. Sekarang si pengganggu itu sudah aku kalahkan dan semoga seiring berjalannya waktu, 'kebencian'ku akan skripshit memudar hahaha...


Aku mau mengeluh tentang sebuah tradisi yang pernah (atau masih?) aku alami. Tradisi ini adalah sebuah ritual yang biasa saja, tidak ada yang spesial di sini. Hanya saja cukup berarti bagiku :)

Berawal dari ajakan seorang sahabat, tradisi ini mulai berjalan. Pada awal-awal kegiatan aku sempat berpikir kalau tradisi ini akan berlangsung sampai selamanya. Terbentuknya tradisi ini adalah sebuah impianku sejak dari dulu. Tentunya kamu bisa membayangkan bagaimana rasanya jika sebuah impian terwujud?ya, bahagia :)

Sepengetahuanku, pengikut tradisi ini berjumlah tiga orang (termasuk aku). Peraturannya hanya satu, yaitu: setiap jam 10 malam, kami melakukan ritual secara bersama-sama. Sesuai dengan yang aku bayangkan, ritual ini dapat membuatku merasa menjadi satu, dalam arti mendekatkanku dengan para anggota lain, meskipun kami di tempat yang berjauhan.

Tradisi ini berlangsung kira-kira selama satu tahun (mungkin juga kurang). Dan sekarang tradisi ini tidak dilakukan seketat dulu, bisa dikatakan tradisi ini sudah sekarat (mungkin lebih cocok mati?). Kendornya semangat untuk berdisiplin mengikuti peraturan tradisi aku rasakan pada saat aku mengerjakan skripshit (mungkin ini alasan mengapa aku 'benci' skripshit?). Aku tidak lagi selalu tepat waktu untuk melakukan ritual, dan begitu juga dengan anggota yang lain.

Sepertinya tradisi ini sudah menjadi tua, kemudian mati seiring berjalannya waktu. Semoga aku salah...

Tradisi dan ritual sengaja tidak aku tulis di sini, biarlah aku dan anggota yang tau :p

Wednesday, March 02, 2011

Untitled

Kira-kira satu jam yang lalu aku mendengar kabar yang sangat tidak disangka-sangka. Salah seorang teman seperjuangan telah pergi meninggalkan dunia ini. Ya, dia telah meninggal :’( memang aku tidak terlalu dekat dengannya, karena perkenalanku dengannya masih sangat baru. Terakhir kali aku berbincang-bincang dengannya pada tanggal 3 januari 2011. Kebetulan sms dari dia masih aku simpan, dan di sms itu dia mengatakan, “kabar-kabar terus ya mas Hen, misal ganti nomor atau apa bilang-bilang juga…” yaah.. ternyata sekarang dia sudah berada di tempat yang lebih enak dari dunia ini, curang kamu Gerry!

Ya, namanya Gerry. Dia mungkin orang pertama yang menolak memanggilku dengan hanya sebutan nama. Alasannya adalah karena aku lebih tua darinya. Jadi dia memanggilku dengan kata ‘mas’ di depan namaku, hmmm… sedikit aneh memang, tapi aku menikmatinya :) entah aku harus sedih atau malah senang melihat Gerry meninggal. Sedih karena cita-cita Gerry pasti banyak yang belum kesampaian, senang karena Gerry sekarang sudah sehat dan bahagia di tempat yang baru. Itu pasti, iya kan Ger?

Mendengar kabar meninggalnya Gerry, sempat terbersit sedikit rasa takut. Jujur, harus aku akui bahwa aku masih sangat pengecut dalam menghadapi kematian. entah perasaan ini wajar atau tidak (aku rasa wajar). Menyadari ketakutanku itu, suatu kalimat keluar dari dalam diriku (mungkin ini yang namanya suara hati?) “Tapi kematian adalah sebuah takdir, sama seperti kelahiran, aku tidak memilih untuk dilahirkan, tapi Tuhan yang memilih aku.” “Begitu juga dengan kematian, aku tidak mau memilih kematian, tapi Tuhan yang memilih aku.” terkesan sok bijak, entahlah...

Sambil menulis ini pikiranku melayang, membayangkan sekaligus bertanya, “apa yang sedang dlakukan Gerry?” aku tidak tahu, tapi pastinya sudah bahagia, sudah sehat. Tidak ada lagi yang namanya operasi, kemoterapi dan lain-lain. Hahaha… beruntung kamu Gerry! Aku dan teman-teman di sini masih berjuang untuk menuju ke tempat kamu. Kamu tunggu di sana yah, jangan pergi-pergi lagi… cepat atau lambat aku akan datang ke sana, tunggu aku!

Bagiku hidup bukan berjuang untuk kehidupan, tapi berjuang untuk mencapai kematian yang sekaligus adalah kehidupan kekal :)

Monday, February 21, 2011

Di mana? (200410)

Di mana? (200410)

Masih adakah kemurnian pada saat seperti ini?
Masih adakah kejernihan pada jaman seperti ini?
Jaman yang sudah terkontaminasi oleh limbah si jahat

Masih adakah kejujuran pada saat seperti ini?
Masih adakah ketulusan pada masa seperti ini?
Masa yang sudah penuh dengan penuh polusi asap si jahat

Apa masih ada orang yang mau menolong tanpa berpikir?
Apa masih ada orang yang mau memberi tanpa pamrih?
Hey, orang baik! Di mana kamu?

Apa masih ada orang yang mau berkorban tanpa mengeluh?
Apa masih ada orang yang mau menderita tanpa merintih?
Hey, orang baik! Di mana kamu?

Aku rindu seribu orang seperti kamu
Aku mengharapkan satu milyar orang seperti kamu
Aku memimpikan seluruh dunia seperti kamu

Bilamana itu terjadi
Api tidak lagi terasa panas
Es tidak lagi terasa dingin

Jahat dan baik saling membantu
Benar dan salah saling mengaku
Rakus dan miskin saling berbagi

Ah, bersihnya dunia
Ah, indahnya dunia
Ah, damainya dunia

Sunday, February 06, 2011

Hening, sunyi (060211)

Hening, sunyi (060211)

Entah sejak kapan aku suka pada keheningan
Meskipun di situ tidak ada apa-apa
Tapi aku dapat mendengar sesuatu bersamanya

Aku tidak bilang itu suara Tuhan
Aku kira itu juga bukan suara hati
Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang aku dengar

Namun aku suka dengan rasanya
Aku cinta pada kesunyian
Karena di dalamnya tidak ada apa-apa

Kekosongannya membuatku rindu

Keheningan itu sederhana
Kesunyian itu apa adanya
Tanpa bunyi ataupun suara dia akan tetap ada

Cintaku untuk keheningan
Sayangku untuk kesunyian
Selamanya...

Wednesday, February 02, 2011

Kenyataan atau imajinasi?

Tidak terasa hari ini sudah hampir habis (lagi). Sekarang jam di rumahku sudah menunjukkan hampir pukul 6 sore. Sudah beberapa waktu ini (kira-kira beberapa bulan yang lalu) langit di sore hari menunjukkan sisi lainnya, ia tidak lagi berwarna gelap ketika maghrib. Langit yang sekarnag adalah berwarna oranye kemerah-merahan, entah kenapa sekarang begitu warnanya, mungkin karena langit ini sudah terlalu tua umurnya?entahlah.

Hobi baruku adalah duduk di depan rumah memandangi langit yang berwarna oranye kemerah-merahan ini. Hmmm.. belum lama sih hobi ini, baru sekitar semingguan. Duduk sendirian ditemani oleh secangkir teh hangat (dan tentunya ditemani oleh alam). Ya, di tempat aku tinggal sekarang masih sangat asri, sejauh mata memandang yang ada adalah tanah dan rumput. Tidak aku temui aspal di sini. Tapi bukan berarti tempat tinggalku ini tidak ada listrik atau ketinggalan jaman.

TV, radio, lampu semua ada di sini (di rumahku), tapi untuk AC tidak ada. Aku tidak perlu AC atau pendingin ruangan di sini, karena udaranya di sini sudah dingin :) ya, aku tinggal di sebuah desa (entah di mana aku juga tidak tahu) yang masih mempertahankan keaslian alamnya tapi tidak juga menolak mentah-mentah teknologi yang masuk. Jadi desa ini tidak termasuk daerah yang tertinggal. Bagiku justru desa ini lebih sempurna dibandingkan dengan di kota, Jakarta misalnya.

Seperti yang tadi sudah aku katakan, di sini ada TV, radio, lampu, dan lain-lain yang hampir sama seperti yang ada di kota. Satu hal yang akan jelas terlihat ketika kamu ke sini adalah tidak adanya kendaraan bermotor. Ya, di sini seluruh penduduk desa menggunakan alat transportasi yang sudah hampir dilupakan, yaitu sepeda :) inilah salah satu faktor utama penyebab masih asrinya udara di sini. Tidak adanya polusi udara!

Aku rasa aku sudah lama tinggal di sini, mungkin sudah puluhan tahun. Sekarang rambutku sudah memutih (tidak semua). Jujur, aku sangat senang tinggal di desa ini. Jarak antara rumah yang satu dengan rumah yang lain berjauhan, jadi suara TV, radio atau bahkan kalian bertengkar tidak akan terdengar oleh tetangga. Sungguh tenang dan damai. Aku jadi semakin sering melakukan meditasi (karena tempatnya yang asik).

Keadaan seperti inilah yang aku rindukan sejak aku masih kuliah dulu. Sekarang aku merasa sudah memiliki segalanya. Rumah kayu yang sederhana, kebun sayuran dan buah-buahan yang ada di belakang rumah, sepeda tua yang selalu setia menemani aku untuk berpergian. Ya pokoknya aku merasa sudah cukup sekarang ini.

Baru pada saat aku mempunyai hobi baru ini, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Hmmm… maksudku ada sesuatu yang terlupakan. Aku merasa pernah mengalami sesuatu kejadian dalam hidup yang sangat membuatku bahagia, tapi aku tidak bisa itu apa. Kalau aku pikir-pikir lagi mungkin istri. Ya, kenapa aku di sini tinggal sendirian?tidak ada anak dan istri ataupun cucu?di dalam diriku memiliki keyakinan kalau aku memiliki pengalaman berumah tangga, tapi aku tidak bisa ingat sama sekali pengalman itu! Ah menyebalkan…

Hampir setiap sore aku jadi memikirkan hal itu. Apa sebenarnya memori yang hilang itu?tetangga-tetangga di sekitarku juga tidak ada yang tahu tentang masa laluku. Dan sesungguhnya aku juga tidak tahu kenapa aku bisa berada di tempat ini, di desa ini. Aku tidak tahu sama sekali. Aku ingat siapa diriku, bagaimana masa kecilku, masa remaja, kuliah dan stop sampai di situ yang aku ingat.

Bila pikiranku bertengkar lagi tentang memori yang hilang ini, batinku sering mendamaikan dengan berkata, “yang terpenting sekarang adalah kamu sudah bisa merasa damai di sini, dan terutama sekarang kamu bisa semakin dekat dengan Tuhan.” Ya, aku rasa batinku benar. Untuk apa aku memikirkan masa lalu, biarkan itu menjadi kenangan dan pelajaran. Yang terpenting adalah hari ini.

Ini kenyataan atau hanya imajinasiku saja?

*****

Aku menulis cerita bertepatan waktu dengan aku post cerita ini. Lucunya, ketika aku selesai menulis, jam di kamarku hampir menunjukkan pukul 6 sore (6 kurang 5 menit). Tapi langit di luar tidak berwarna oranye kemerah-merahan, langit berwarna biru tua dan juga hujan hehehe... Sambil mendengarkan lagu dari game harvest moon: back to nature (tepatnya lagu ketika musim dingin di game itu), jadilah cerita ini. Kalau mau dengar lagunya, bisa di download di sini.

Saturday, January 29, 2011

Malam (280111)

Malam (280111)

Baru-baru ini aku mempunyai satu kerinduan baru
Rindu untukmu telah lewat, baik hati
Mungkin aku sudah bisa terima keadaan

Rindu yang baru ini selalu datang
Sama seperti saat aku rindu kamu sayang
Rindu ini serupa tapi tak sama

Dia, yang aku rindu selalu datang
Mengobati perihku dengan setia
Setiap hari dan tepat waktu

Dia menghampiriku dengan lembut dan ramah
Mengajakku untuk bersamanya
Ketulusannya membuatku candu

Kamu tau siapa dia?
Bisa coba kamu tebak?
Dia bukan manusia, manis

Dia adalah sebelum pagi
Dia adalah setelah sore
Dia adalah si malam

Aku jatuh cinta pada malam
Gelap tubuhnya membuatku merasa damai
Sunyi sikapnya membuatku merasa tenteram

Bersama dia aku bisa merasa sendiri
Bersama dia aku bisa menikmati sepi
Bersama dia bisa kutitipkan susah untuk sementara

Pagi, kenapa kamu harus datang sekarang?
Siang, cepatlah berlalu
Sore, kemarilah segera

Malam, aku rindu..